Belajar Sambil Bermain
"Ummi pagi ini kita main apa ?" Beberapa kali saya menerima komentar dari anak-anak di kelas. Meski sudah tingkat sekolah menengah tapi tetap saja bermain adalah hal yang menyenangkan bagi mereka. Dan mungkin tidak hanya generasi Z ini namun kita yang di lahirkan tahun 80 an juga sangat senang jika diajak bermain. Apalagi permainan itu berguna untuk memahami materi yang harus mereka kuasai.Saya berfikir bahwa belajar itu perlu di dahului dengan rasa nyaman tidak tegang apalagi tertekan. Otak kota akan optimal bekerja jika kondisi jiwa sedang stabil. Kita tak pernah tahu persis apa yang dilalui oleh anak sebelum mereka memasuki kelas. Latar belakang lingkungan dan pengalaman sangat berpengaruh terhadap kondisi jiwa mereka. Mungkin ada anak yang harus bersimbah keringat dulu untuk bisa hadir di kelas. Ada anak yang dapat umpatan atau pertengkaran terus menerus. Atau kelaparan yang ditanggung sejak semalam. Bisa saja banyak hal berat dan sulit mereka lalui. Apakah kita akan langsung memberikan materi pelajaran ?
Kalo saya tidak
Selain karakter personal saya yang mudah bosan dan juga ada rasa tidak baik langsung memaparkan materi. Karena itulah mereka di ajak bermain dulu. Biasanya saya akan bermain yang berkaitan dengan teknologi. Saya berharap manfaat lainnya adalah memperlihatkan kepada mereka wajah baik dari penggunaan teknologi. Anak harus kenal teknologi yang sehat. Merek mesti tahu bagaimana percepatan dunia bisa memberikan kemudahan, meningkatkan kualitas pembelajaran dan sehat dalam dunia pendidikan.
Salah satu yang kami lakukan adalah pembuatan projek berbasis game guna pendalaman materi yang bersifat teoritis. Bab pertama materi adalah alur produksi multimedia atau bisa di baca pipeline multimedia. Membaca tanpa ada sesuatu yang unik akan sulit di ingat, dengan menguatkan dalam sajian game pasti sangat mengena sekali. Apalagi jika game itu mereka rancang secara berkolaborasi.
Tahapan pengerjaan proyek game edukasi berbasis QRcode.
1. Anak diberikan materi dan membaca
2. Memahami lebih lanjut dengan menjawab beberapa soal yang ada.
3. Anak di bagi dalam 5 kelompok
4. Menjelaskan bahwa proyek adalah membuat game untuk pendalam materi, dimana soal di sajikan dalam bentuk link QR code.
5. membagi setiap anak memiliki tanggung jawab : merancang ide game, membuat video dokumentasi, membuat laporan dan lain sebaginya yang dianggap perlu.
6. Membagikan alat dan bahan : berupa kertas kartun tebal ukuran 20 x 50 cm, kertas HFS dua warna perkelompok, lem,gunting dan cutter.
Sembari anak membuat proyek guru melakukan pengawasan, pembimbingan dan penilaian.
Penilaian berkaitan : kerja sama, managen waktu, ketepatan, ketertipan dan disiplin.
Setelah game selesai di buat, kelompok secara bergantian mencoba memainkan game dengan mengundang siswa lain yang berasal dari kelompok berbeda. Hal ini dilakukan guna tercapai pemahaman terhadap materi lebih bagus, mengukur kehandalan game, dan bentuk penghargaan terhadap hasil karya siswa dalam merancang game edukatif.
Saya memegang dua kelas dalam mata pelajaran ini. Dan saya menemui 10 game yang berbeda dan semua menarik untuk di mainkan.
Ada yang saya dengar memberikan komentar yang sangat berharga. "Ternyata buat game itu sulit yac, tidak mudah." atau "game kita bakal seru apa tidak ni jika dimainkan". Dan masih banyak lagi. Ada kelompok yang menyediakan hadiah berupa makanan kecil. Dan itu penuh sorak-sorai dalam menentukan pemenangnya.
Namun dari semua proses yang terjadi saya lebih suka melihat reaksi mereka bersama saat game dimainkan. Ada suasana bahagia, penuh semangat dan sangat menikmati permainan. Jujur saya kagum akan kemampuan mereka berkolaborasi, kagum dengan kecerdasan mereka merancang permainan berbasis teknologi QR code. Dan terakhir saya bahagia melihat mereka bersuka ria dan mengakhiri kelas dengan puas.
Saya yakin bahwa teknologi tifmdak membuat kita semakin sulit. Tidak membuat generasi kita kian terjepit dengan pengaruh buruk. Tergantung bimbingan orang dewasa
Salah Satu Video dokumentasi kelompok.
Post a Comment